SDA 12 - Tentang Novel Senja Di Alexandria

SENJA DI ALEXANDRIA

     Dalam kwadran eksotisme Alexandria – kota mengejutkan yang telah melewati rute peradaban Mesopotamia, Yunani, Byzantium dan Islam – Zhaedy dan Khalida mengikrarkan cinta mereka.     Di tengah mozaik sains Alexandria – kota yang menyimpan naskah Homer, Eratos, Sophocles, Euripides dan Aristhophanes – Zhaedy dan Khalida menyanyikan kidung cinta mereka.

   Dan, di dalam bingkai legenda para maestro yang lahir di era Alexandria – Archimides, Aristarchus, Herophilus, Euclides, Erasthostenes, Kalimakhus dan Hypatia – Zhaedy dan Khalida memahat cinta mereka.

   Zhaedy lahir dengan takdir spesial: tampan, cerdas, elegan dan anak seorang Duta Besar di Mesir. Ia pernah punya cita-cita untuk menaklukkan dunia-dunia. Dan baginya, itu bukan cita-cita sulit. Namun, suratan menghentikan langkahnya di Alexandria – ketika menemukan cinta seorang Khalida.

   Kehidupan Khalida jauh dari atmosfir bising kemewahan: lahir sebagai anak dari seorang Tenaga Kerja Wanita Indonesia. Alexandria bukan ibu pertiwinya, namun kota itu telah menjadi bagian hidupnya – keindahannya, tanahnya, gelombangnya, dan senjanya. Keindahan itu makin menakjubkan ketika ia dipertemukan dengan Zhaedy.

  Mereka bertemu dalam sebuah kajian yang diselenggarakan oleh Himpunan Wanita Pekerja Indonesia – sebuah lembaga di mana Khalida menjadi inspirator. Sebuah lembaga tempat informasi, pencerdasan dan perlindungan bagi tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri. Sebuah lembaga yang menjadi wadah untuk menanam persabahatan, persaudaraan di antara para duta devisa negara.

   Sebuah pertemuan sederhana, bahkan di antara lalu lintas keresahan, kegelisahan dan kegamangan para tenaga kerja wanita. Tapi di tempat itu cinta mereka menemukan getarannya.

Di senja merah Alexandria, mereka mengikrarkan sebuah cinta yang sederhana namun agung – cinta yang tidak meminta, cinta yang tidak dimaknai dengan bahasa, dan cinta yang tidak dibelenggu warna.

  Bagi mereka, cinta tidak perlu dimaknai, diterjemahkan atau ditafsirkan. Cinta memiliki karakter sendiri. Ia akan berjalan, berhenti dan bergerak dengan getaran dan iramanya sendiri, kekhusukannya sendiri, keheningannya sendiri dan bahkan kebisingannya sendiri.

  Tapi tidak selamanya cinta menjadi pilihan logis, ketika Zhaedy harus berpisah dengan Khalida. Kematian gadis jelita itu telah membawa seperangkat jiwa Zhaedy. Ketika Khalida berada di sisinya dan memberikan cinta agungnya, Zhaedy merasa dunia ini baik-baik saja. Tapi ketika gadis itu tak lagi terjangkau, ia merasa ketidakadilan tengah memporak-porandakan kehidupannya. Lagu-lagu cinta itu meredup.

  Zhaedy seperti dilahirkan kembali di sebuah dunia asing, tanpa getaran, tanpa keindahan dan tanpa panorama. Bahkan ia merasa aneh ketika  Dhenira – adik Khalida – datang membawa cinta untuknya.

  Bagi Zhaedy, Khalida tidak akan tergantikan.

  Khalida adalah rembulan sekaligus mataharinya.

  Zhaedy memilih sebuah tempat sunyi di dalam khayalannya. Tempat sunyi dimana ia dapat berbicara, bercanda dan merangkai cinta bersama Khalida.

  Pada setiap senja, Zhaedy tegak sendirian di sudut Alexandria. Di sana ia dapat merasakan kehadiran Khalida.

    Di setiap senja, Zhaedy akan menunggu.

    Menunggu senja cintanya.

   Tunggu tanggal terbit cetakan ke-empatnya!

– zhen

Tinggalkan Komentar