house and eye 1 300x295 - Sekilas Tentang House of Lord

Ketika Ka’bah Terancam Musnah

REPUBLIKA.CO.ID

OLEH IRWAN KELANA

Apa jadinya jika Ka’bah di Masjidil Haram yang merupakan kiblat kaum Muslimin sedunia dihancur-musnah-kan? Ke mana kaum Muslimin akan menghadap saat shalat? Ke mana pula mereka akan berkumpul saat menunaikan ibadah haji? Apakah mereka akan tetap berziarah ke Makkah? Dan apakah itu berarti kitab suci Alquran ternyata berbohong ketika mengatakan Ka’bah itu akan abadi hingga datang hari Kiamat?

Sementara itu, di dalam negeri Arab Saudi sendiri, apakah yang akan terjadi selepas Ka’bah dimusnahkan? Bukankah selama ini Arab Saudi selalu membanggakan dirinya sebagai Khadimul Haramain atau penjaga dua kota suci – Makkah dan Madinah? Bagaimanakah suksesi bani Saud dari generasi kedua di bawah kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud: apakah akan berjalan mulus ataukah melalui pertumpahan darah?

Inilah konflik sangat kuat yang diangkat dalam novel yang ditulis oleh Zhaenal Fanani. Novel dengan ide gila seorang arkeolog terkenal, akademisi, filantrop, bangsawan, ahli sejarah, dan kandidat kurator Wing Shape Zayed National Museum Abu Dabi, bernama Profesor Sondre Vegard.

Gagasan bagi raja Vegard terobsesi keinginan menjadi orang pertama yang melangkahi dalil-dalil dalam kitab suci mengenai keabadian Ka’bah. Sekaligus, Vegard juga hendak memperlihatkan kepada Profesor Sybil Balqizh pendapatnya tentang Ka’bah lebih valid.

Caranya adalah dengan meletakkan dua senjata pemusnah massal di pintu Ka’bah dan di puncak Makkah Clock Royal Tower yang berada persis di depan Masjidil Haram.

Untuk melaksanakan rencana jahatnya itu, Vegard membungkusnya dengan tipu muslihat yang sangat halus dan terlihat simpatik. Ia menemui Raja Abdullah. Vegard menawarkan gagasannya.

Raja Abdullah setuju karena gagasan Vegard akan membuka tabir siapa orang-orang yang hendak mengambil pemerintahannya.

“Raja Abdullah tahu bah wa kepemimpiannya akan segera berakhir. Ia pun sadar, transisi di masanya adalah peralihan kekusaan yang sangat be rat di pentas sejarah pe merintahan Arab Saudi, karena penggantinya akan menjadi penanda berakhirnya generasi ke dua Bani Saud. Setelah itu generasi ketiga Bani Saud akan tampil di atas pang gung kekuasaan.

Raja Abdullah juga paham ketidaksabaran sebagian generasi ketiga Bani Saud untuk segera mengambil-alih pemerintah an. Bahkan, sebagian dari mereka telah memperlihatkan ketidaksabarannya secara terang-terangan. Dari tempat persembunyiannya di Jerman, Khalid bin Farhan telah mengu mandangkan pernyataan perang. Kaum oposisi mulai mendapatkan tempat. Embusan angin Spring Arab mulai bertiup dan menimbulkan letupan-letupan.” (hlm 361).

Banyak kritik Skenario yang disiapkan oleh Vegard sangat matang, dan melibatkan banyak tokoh dari berbagai negara. Untuk memuluskan rencananya, Vegard pun tak segan-segan membunuh orang-orang yang dinilai bisa menjadi penghalang baginya. Dua senjata pemusnah massal sudah diletakkan di pintu Ka’bah dan di puncak Makkah Clock Royal Tower.

house of lord 1 - Sekilas Tentang House of Lord

Pada saat bersamaan, kelompok Komando Revolusioner Al-Saudiah yang dipimpin Mansour bin Farhan – saudara laki-laki Khalid bin Farhan – mengambil alih Istana Al-Yamamah dan keesokan hari akan mendeklarasikan pemerintahan baru menggantikan Raja Abdullah.

Inilah rencana lain di balik rencana yang ditawarkan Vegard kepada Raja Abdullah. Jika pernyataannya benar, berarti teror Makkah adalah upaya untuk mengalihkan perhatian. (hlm 358).

“Semua ini di luar dugaan dan mengejutkan. Semua ini sandiwara untuk sebuah revolusi.” (hlm 360).

Rencana makar jahat Vegard hanya hitungan detik akan berhasil. Namun, ada seseorang yang menghentikan langkahnya? Siapakah orang tersebut? Lalu, bagaimana akhir dari misi besar Vegard?

Novel ini menyisipkan banyak kritik, khususnya untuk pemerintahan Arab Saudi yang belakangan terus berlomba-lomba membangun bangunan- bangunan megah di sekitar Ka’bah – hal yang juga dikritik oleh banyak tokoh Islam di berbagai negara.

“Di dunia ini, apa yang lebih monumental di – ban ding Ka’bah. Apa yang lebih spektakuler dibanding Ka’bah? Sayangnya, Anda telah mengotorinya!

Anda membiarkan bangunan-bangunan lain menenggelamkan Ka’bah! Anda lebih suka membanggakan diri dengan memiliki jam yang menandingi Big Ben London! Anda lebih senang mempunyai pen cakar langit tertinggi di dunia! Anda mengencingi Bait Suci!” (hlm 367-368).

Juga kritik terhadap kelakuan pemimpin Arab Saudi yang lebih mementingkan keluarga diban – dingkan kepentingan rakyat.

“Selama ini para pemimpin Arab Saudi bertindak di luar garis. Mereka lebih mementingkan keluarga dibandingkan kepentingan rakyat. Mereka membungkam media. Mereka menghantam kaum oposan dengan fatwa-fatwa yang menyesatkan.

Mereka mengeksploitasi hasil bumi negara untuk berfoya- foya.” (hlm 358).

Setting luar negeri kini semakin banyak novel karya penu lis Indo nesia yang meng ambil settingluar ne geri, baik Eropa, Ame rika Serikat, maupun Timur Tengah. Termasuk di antaranya sejumlah novel Islam yang mencoba me nyampaikan kebe nar an dan keindahan nilai- nilai Islam kepada masyarakat Barat. Sebut saja, 99 Cahaya di Langit Eropadan Ketika Langit Amerika Terbelahkarya Hanum Rais serta Bumi Cintadan Ayat-Ayat Cinta 2karya Habiburrahman El-Shirazy.

Tidak sedikit novel Islam yang mengambil settingTimur Tengah, terutama Mesir, Turki, dan Arab Saudi. Namun, pada umumnya novel-novel tersebut lebih menjadikan Timur Tengah sebagai settingcerita bagi para tokohnya, yang umumnya sebagian merupakan orang Indonesia, dan lebih merupakan novel percintaan dalam balutan dakwah.

Namun, novel yang menjadikan Ka’bah sebagai titik sentral kisah, sekaligus sebagai objek yang akan dimusnahkan, mungkin inilah novel pertama yang mengambil setting tempat seperti itu. Sebuah konflik yang memiliki magnit sangat besar, sebab kalau sampai Ka’bah tersebut benar-benar dihancur-musnahkan, dampaknya sudah pasti luar biasa, bahkan sulit dibayangkan.

Dengan bahasanya yang renyah dan mengalir, konflik yang sangat kuat, karakterisasi tokoh yang sangat bagus, sulit untuk berhenti membaca novel ini sebelum selesai.

Tepat sekali yang digambarkan oleh Yon Machmudi PhD, dosen Prodi Arab Universitas Indonesia dan Sekretaris Departemen Ilmu Sejarah UI saat memberikan endorsementnovel ini.

“Timur Tengah selalu menarik untuk dijadikan topik berita. Novel ini memberikan gambaran lengkap tentang Timur Tengah, termasuk segudang konflik dan intrik di dalamnya. House of Lordlayak dibaca bagi siapa saja yang ingin menyelami dinamika dan kerumitan Timur Tengah melalui sebuah tuturan karya sastra yang sangat menarik.

Eksotik, modern, politis dan sekaligus agamis berpadu, itulah Timur Tengah.”

Timur Tengah selalu menarik untuk dijadikan topik berita.

Novel ini memberikan gambaran lengkap tentang Timur Tengah, termasuk segudang konflik dan intrik di dalamnya.

Tinggalkan Komentar